Core Indonesia

12Jan

Menata Sistem Kebijakan Insentif untuk Percepatan Program Hilirisasi Nasional

Ekspansi program hilirisasi nasional ke lima sektor prioritas berisiko gagal mencapai transformasi struktural yang diharapkan jika tidak didukung sistem insentif yang tepat sasaran. Meskipun Indonesia telah menyiapkan puluhan regulasi insentif, distribusinya yang timpang justru mengunci industri pada aktivitas ekstraktif bernilai tambah rendah.

CORE Indonesia mengidentifikasi ketimpangan kritis dalam arsitektur kebijakan hilirisasi: lebih dari 70% regulasi sektoral masih terkonsentrasi pada aktivitas hulu, sementara segmen antara (midstream) dan hilir (downstream) mengalami kekosongan insentif signifikan. Sektor kelautan-perikanan bahkan dikecualikan dari fasilitas tax holiday, meskipun memiliki potensi sumber daya laut yang besar sebagai negara kepulauan.

Benchmarking dengan lima negara—China (baterai), Algeria (LNG), Filipina (minyak kelapa), Vietnam (furnitur), dan Thailand (olahan ikan)—menunjukkan Indonesia belum menerapkan pola-pola kunci keberhasilan: insentif terintegrasi hulu-hilir, alokasi anggaran spesifik per program, pemberian insentif berbasis kinerja, serta kebijakan industrialisasi yang terintegrasi dengan kebijakan perdagangan berupa jaminan pasar domestik dan ekspor. Ketiadaan skema insentif berjenjang berdasarkan kedalaman hilirisasi membuat investor pengolahan primer (seperti smelter, kilang, dll) memperoleh fasilitas setara dengan industri manufaktur lanjutan (seperti baterai, petrokimia). Tanpa reorientasi fundamental, Indonesia berisiko terjebak pada posisi “tengah” sehingga tidak menguasai rantai nilai domestik terintegrasi, juga tidak kompetitif dalam rantai pasok global.

Kondisi ini diperparah fragmentasi regulasi lintas kementerian yang menciptakan tumpang tindih kewenangan dalam pengembangan hilirisasi, lemahnya koordinasi vertikal antara pemerintah pusat dan daerah, serta ketiadaan roadmap hilirisasi terintegrasi yang menyelaraskan perencanaan lintas institusi. Absennya sistem informasi digital real-time untuk monitoring suplai-permintaan dan mekanisme kontrol produksi menyebabkan pemerintah tidak memiliki instrumen peringatan dini terhadap krisis oversupply, sebagaimana terjadi pada sektor nikel yang mengalami koreksi harga drastis hingga 70%. Lebih kritis lagi, insentif fiskal dan non-fiskal yang ada tidak mensyaratkan ESG sebagai prasyarat, tidak terdapat mekanisme pencabutan fasilitas bagi pelanggar standar lingkungan dan sosial, serta risiko inkonsistensi kebijakan yang masih tinggi.

Apa saja rekomendasi kebijakan komprehensif untuk percepatan hilirisasi yang mencakup penciptaan nilai tambah, distribusi manfaat ekonomi, dan penerapan mekanisme ESG dari CORE Indonesia?

Baca selengkapnya Policy Brief “Menata Sistem Kebijakan Insentif untuk Percepatan Program Hilirisasi Nasional: Evaluasi dan Benchmarking Insentif Hilirisasi Indonesia dengan 5 Negara” dengan klik lampiran di bawah ini.

23Sep

Peran Strategis Indonesia dalam G20 Menurut Pandangan Para Pakar

Buku ini merupakan hasil sumbangsih nyata pemikiran para ekonom mengenai berbagai topik, khususnya ekonomi Indonesia dan disusun dalam rangka menyambut Konferensi Tingkat Tinggi G-20 yang akan diadakan di Bali pada November mendatang. Keragaman latar belakang para penulis memberikan warna baru dan memperkaya prospektif dalam menyajikan pemikir-pemikir terdepan untuk mengurai permasalah ekonomi Indonesia.

Buku ini mengangkat beberapa isu dalam Sherpa Track seperti pertanian, transisi energi, keberlanjutan lingkungan dan iklim, isu pembangunan seperti ketimpangan dan isu gender, ekonomi digital, perdagangan, dan investasi. Selain itu terdapat isu-isu dalam Financial Track yang ditulis dalam buku ini, yakni isu tantangan utang, risiko siber, inklusi keuangan serta scarring effect dan strategi keluar untuk pulih dan bangkit dari pandemi.

Pemaparan atau kajian seperti ini pelu dilakukan dan diperdalam lagi sehingga dapat memberikan alternatif solusi bagi berbagai permasalahan yang dihadapi Indonesia. Kami menyadari bahwa dalam pemaparan ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya tindak lanjut dan penelitian lebih dalam lagi. CORE Indonesia berharap dapat melanjutkan tahap awal ini dengan para penulis ataupun pemangku kepentingan lainya agar dapat menghasilkan karya yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi Indonesia.

Tak ada gading yang tak retak. Demikian juga dengan buku ini. Kami menyadari bahwa dalam penulisan buku ini juga belum sempurna, sehingga perlu adanya kritik dan saran yang membangun dalam rangka penyempurnaan tulisan ini.

Pada akhirnya dalam kesempatan ini, kami ucapkan terimakasih kepada penulis yang telah mencurahkan seluruh tenaganya dalam menyumbangkan pemikiran- pemikiran dan pandanganya, sponsor yang telah memberikan dukungan penuh dalam penerbitan buku ini, dan semua pihak yang terlibat sehingga buku ini dapat di terbitkan dengan hasil yang sesuai harapan.

Semoga buku ini dapat bermanfaat dalam menambah wawasan atau prospektif bagi para pembaca baik akademisi maupun masyarakat secara umum. Terima kasih.

Jakarta, Oktober 2022

15Sep

Suara-Suara Generasi Muda untuk Bangsa

Indonesia memiliki potensi besar dalam pembangunan ekonomi melalui kontribusi generasi muda, dengan 66,9 juta penduduk berusia 15-29 tahun atau sekitar 24,04% dari total populasi (BPS, 2024). Bonus Demografi yang diproyeksikan berlangsung pada periode 2020-2035, dimana proporsi usia produktif akan mencapai 64% dari total populasi, memberikan peluang strategis bagi percepatan pembangunan ekonomi. Dengan lebih dari 191 juta orang berada dalam usia produktif, mayoritas berasal dari Generasi Z, Indonesia memerlukan peningkatan keterampilan dan pendidikan, terutama dalam menghadapi kebutuhan akan 9 juta talenta digital menjelang 2030 .

Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan seperti stagnasi ekonomi, rendahnya penciptaan lapangan kerja, minimnya wirausaha muda, dan ancaman perubahan iklim. Menurut data BPS, pada 2023 terdapat 9,89 juta (22,25%) pemuda usia 15-24 tahun yang masuk kategori NEET (Not in Employment, Education, or Training). Meski turun dibanding masa pandemi, persentase ini masih lebih tinggi dari rata-rata dunia, yakni 21,6%.

Di samping itu, pertumbuhan digitalisasi juga harus sejalan dengan pengembangan ekonomi hijau, mengingat keberlanjutan lingkungan kini telah menjadi bagian penting dalam bisnis global. Youth Economic Summit 2024, yang diselenggarakan oleh CORE Indonesia dan Suara.com, bertujuan untuk mendorong generasi muda menjadi aktor utama dalam mendukung ekonomi digital yang inklusif dan ekonomi hijau yang berkelanjutan. Dengan tema pembangunan berkelanjutan berbasis teknologi digital, Youth Economic Summit akan menjadi platform untuk menyatukan inovasi pemuda dalam mengatasi tantangan ekonomi nasional.

Sebagai bagian dari rangkaian acara Youth Economic Summit, Ruang Gagasan mengumpulkan pandangan dari kalangan muda tentang berbagai isu strategis. Mulai dari pengurangan emisi, pemberdayaan UKM, pertanian yang cerdas, pendidikan, hingga kontribusi anak muda dalam kemerdekaan Indonesia. Dari diskusi ini muncul tawaran-tawaran solusi atas problem-problem yang telah dirumuskan. Lebih jelasnya, dapat dilihat dari isi pembahasan dalam buku tipis ini.

Tentu tidak semua isu sempat didiskusikan. Masih banyak isu-isu lain yang memerlukan perhatian serius, dan sayangnya sebagian besar orang muda mengabaikannya. Namun, setidaknya terdapat 9 isu utama yang telah dibahas bersama. Kesembilan itu tersebut dipilih berdasarkan urgensi dan relevansinya bagi anak muda. Isu-isu itu juga sempat ramai di publik dan berkenaan langsung dengan hajat hidup kalangan muda. Bila tak disuarakan sejak sekarang, ke depan bakal makin problematik dan memberatkan generasi berikutnya.

Tentu pula suara-suara dari Ruang Gagasan tidak mewakili keseluruhan anak muda se-Tanah Air. Namun, rangkuman pemikiran dalam buku kecil ini setidaknya merefleksikan bagaimana generasi muda sekarang memotret persoalan dengan sudut pandang sendiri, yang mungkin berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Setidaknya pula menepis tudingan bahwa anak muda masa kini masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri, tak peduli pada permasalahan bersama.

Hasil diskusi dikemas dalam dua bentuk. Pertama, rekomendasi dalam bentuk Komunike yang disampaikan pada kegiatan puncak Youth Economic Summit 2024. Kedua, dokumen ringkasan diskusi yang dikemas dalam bentuk buku digital yang dapat diunduh secara gratis. Harapannya, suara-suara dari Ruang Gagasan ini tidak hanya berhenti di telinga publik, tetapi juga sampai ke lubuk hati para pengampu kebijakan dan pemangku kepentingan.

Atas partisipasi seluruh pihak, kami mengucapkan terima kasih.

Jakarta, 23 November 2024

Ruang Gagasan

11Aug

Final Report: The Impact of Early Coal Power Plant Retirement on GDP, Fiscal Policy, and Employment in Indonesia

Indonesia’s transition away from coal-fired power plants (CFPPs) represents both a significant challenge and opportunity for the national economy. This study examines three distinct scenarios: Business as Usual (BAU), Phase-Down (gradual transition), and Phase-Out (accelerated transition), analyzing their comprehensive impacts across GDP, fiscal revenues, and employment sectors through 2060. This analysis reveals that early CFPP retirement, when coupled with strategic renewable energy development, can deliver net positive economic outcomes in the medium to long term.

What are the economic impacts and opportunities of CFPPs phase-out on Indonesia’s national GDP, fiscal revenues from coal-related activities, and employment across the coal mining and power generation sectors? And what comprehensive mitigation strategies can be implemented to mitigate negative socioeconomic impacts while accelerating renewable energy adoption in Indonesia?

Read the full report by CORE Indonesia about “The Impact of Early Coal Power Plant Retirement on GDP, Fiscal Policy, and Employment in Indonesia” in attached file below.

29Jul

Consolidated Policy Paper: Assessing the Impact and Opportunities of Electric Vehicles in Advancing Indonesia’s Green Economy Index

The Government of Indonesia has embarked on an ambitious initiative to advance its green economy through electric vehicle (EV) development, as outlined in the 2025-2045 long-term national development plan. This strategic focus aims to address critical challenges in the transportation sector, which currently accounts for 36.7% of total energy consumption and 9.5% of national greenhouse gas emissions. The government has set ambitious targets for EV adoption, aiming for 1.97 million four-wheeled vehicles (E4W) and 12.9 million two-wheeled vehicles (E2W) to comprise 44% of the national vehicle market share by 2030.

As of September 2024, Indonesia’s EV market shows promising but modest growth, with 43,509 four-wheeler EVs and 152,280 two-wheeler EVs on the road. The infrastructure supporting this transition includes 1,810 public charging stations and 1,882 battery swapping stations, though these are heavily concentrated in Java, particularly the DKI Jakarta region. Sales are primarily concentrated in the middle-price segment, with 55% of purchases falling in the 250-500 million Rupiah range.

The economic impact analysis reveals significant potential benefits under the EV. Impact scenario, which emphasizes domestic manufacturing. GDP growth is projected to increase from 0.01% in 2030 to 2.03% by 2060, driven by domestic value chain development. Indonesia’s strategic advantage in battery production is supported by its control of 42.3% of global nickel reserves, attracting significant investments from global manufacturers including Toyota ($1.8 billion), BYD ($1.3 billion), and LG Energy Solution ($9.8 billion).

From a social perspective, the transition to EVs presents substantial employment opportunities under the domestic manufacturing scenario, with projections indicating 500,000 new jobs by 2030, expanding to 1.7 million by 2045. However, this transition requires significant workforce transformation, with new skills needed in electrical systems, battery technology, and digital manufacturing. The existing automotive workforce will require substantial upskilling, with particular emphasis on technical and analytical capabilities.

Environmental impact assessments demonstrate positive outcomes from EV adoption, showing a 14.8% reduction in overall GHG emissions compared to conventional vehicles. These benefits are expected to increase as Indonesia transitions to renewable energy sources, with the environmental pillar score in the Green Economy Index projected to reach 86.76 by 2060 under the LCDI NZE scenario. However, significant challenges remain, including the current high reliance on coal-based electricity (62.7% of production), environmental impacts from nickel mining, and limited battery recycling infrastructure.

Key challenges facing Indonesia’s EV development include manufacturing and supply chain limitations, particularly in meeting domestic content requirements (TKDN) and reducing reliance on imports for critical components. Infrastructure challenges persist in the form of insufficient charging network coverage and geographic concentration of facilities. Market development faces obstacles including high upfront costs limiting adoption and consumer concerns about battery life and maintenance.

To address these challenges, comprehensive policy recommendations have been developed across economic, social, and environmental dimensions. Economic recommendations focus on maintaining and expanding purchase subsidies and tax rebates through 2030, implementing progressive taxation on conventional vehicles, and supporting flexible financing options for EV purchases. Social policy recommendations emphasize workforce development through comprehensive training programs, establishing a sectoral skills council for curriculum alignment, and developing standardized certification frameworks. Environmental policies prioritize clean energy integration in manufacturing and charging, smart grid infrastructure development, and implementation of sustainable mining standards.

The analysis concludes that Indonesia’s EV development shows significant potential for advancing the country’s green economy objectives, with projected improvements across economic, social, and environmental dimensions. Success requires comprehensive policy implementation, strong institutional coordination, and balanced consideration of economic development with environmental protection and social equity. The findings suggest that prioritizing domestic manufacturing capabilities while maintaining environmental standards represents the optimal path forward for Indonesia’s green economy transition.

29Jul

Laporan Akhir: Dampak Potensi Adopsi Standart Emisi EURO 4-6 pada Aspek Ekonomi dan Sosial di Indonesia

Indonesia telah menetapkan visi pembangunan jangka panjang yang komprehensif melalui berbagai peraturan dan kebijakan untuk mengurangi emisi dan memperbaiki kualitas udara. Transisi ini sangat penting mengingat sektor transportasi menyumbang porsi signifikan dari total konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca nasional. Kondisi kualitas udara di Indonesia saat ini menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.

Adopsi standar bahan bakar rendah emisi sangat penting bagi Indonesia karena beberapa alasan. Standar ini menurunkan emisi polutan berbahaya seperti sulfur dioksida, nitrogen oksida, dan partikulat, yang menurunkan risiko penyakit pernapasan (asma dan bronkitis) dan membantu mencegah kondisi kardiovaskular.

Dalam upaya mengurangi dampak lingkungan, pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mengadopsi standar emisi Euro melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017, yang mendesak transisi ke standar Euro 4. Implementasi standar ini berlangsung secara bertahap, dimulai dari Euro 2 pada 2005, dan saat ini dalam proses transisi menuju Euro 4 untuk kendaraan ringan dan Euro 5 untuk kendaraan berat.

Jika dibandingkan dengan standar industri otomotif di berbagai negara, Indonesia masih tertinggal dalam mengadopsi standar Euro. Sementara Indonesia masih menggunakan standar bahan bakar yang lebih rendah, negara-negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, China, dan India telah lebih maju dalam mengadopsi standar emisi yang lebih bersih. Thailand dan Vietnam telah menerapkan Euro 4 untuk semua jenis kendaraan dan sedang bergerak menuju Euro 5. China bahkan telah lebih maju dengan implementasi Euro 5 dan telah memulai transisi ke China VI (setara dengan Euro 6).

Pada tahun 2023, penggunaan bahan bakar Euro 4 masih di bawah dua persen dari total konsumsi bahan bakar nasional. Konsumsi bahan bakar didominasi oleh Pertalite 90 bersubsidi (bensin dengan oktan rendah) sebesar 45% dan Biosolar 48 bersubsidi (diesel) sebesar 26%. Kedua jenis bahan bakar tersebut berada di bawah standar Euro 4, sementara bahan bakar yang memenuhi standar Euro 4 hanya menyumbang kurang dari 2% dari total konsumsi nasional.

Apa saja peluang dan tantangan Indonesia dalam menerapkan standar emisi Euro 4-6?

Baca selengkapnya Laporan Akhir kajian CORE Indonesia bersama Viriya ENB tentang “Dampak Potensi Adopsi Standart Emisi EURO 4-6 pada Aspek Ekonomi dan Sosial di Indonesia” di pada lampiran di bawah ini

29Jul

Policy Brief: Implementasi Kebijakan BBM EURO 4-6: Siapkah Kita?

Indonesia menghadapi krisis kualitas udara, namun adopsi BBM ramah lingkungan masih sangat terbatas. Padahal, sejak 2017 pemerintah telah mendorong penerapan standar emisi Euro 4–6 untuk kendaraan bermotor sebagai bagian dari transisi menuju transportasi yang lebih bersih.

Sayangnya, pada 2023, bahan bakar berstandar Euro 4 baru mencakup <2% dari total konsumsi nasional. Mayoritas masyarakat masih menggunakan Pertalite (RON 90) dan Biosolar—dua jenis BBM yang belum memenuhi standar Euro 4.

Sementara itu, negara-negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, dan China telah lebih progresif mengadopsi standar emisi tinggi. Indonesia masih tertinggal, baik dalam penyediaan infrastruktur BBM bersih maupun dalam insentif kepada produsen dan konsumen.

Lantas, apa tantangan yang membuat transisi ini berjalan lambat? Bagaimana dampaknya terhadap sektor otomotif, ekonomi, dan sosial?

Baca Policy Brief CORE Indonesia & Viriya ENB tentang Implementasi Kebijakan BBM EURO 4-6: Siapkah Kita?dengan klik lampiran di bawah ini

29Jul

Just Energy Transition for Indonesia’s Sustainable Economic Growth: A Study on the Comprehensive Value Chain of the Electric Vehicle Industry

Sinopsis:

Indonesia, endowed with rich reserves of minerals such as copper, nickel, tin, and bauxite, is entering a critical phase in the utilization of its natural resources. The government has implemented policies prohibiting mineral ore exports and promoting domestic processing industries to foster sustainable economic growth. This book presents CORE Indonesia’s study findings from 2023, aiming to enhance policymakers’ capacity in mineral-based downstream industry governance. Its chapters examine the mineral industry governance structure, the connection between upstream mineral sectors and battery-based electric vehicle industries, the potential implementation of electric vehicles across Indonesia’s regions, and the roadmaps for transitioning towards greener energy.

 

Authors:

Mohammad Faisal
Akhmad Akbar Susamto
Muhammad Ishak Razak
Stania Puspawardhani
Rahmi Afzhi Wefielananda
Dzaki Fahd Haekal
Rivan Dwi Aghnitama
Sahaya Aulia Azzahra

Graphic Design and Layout:

Alek Surya Nugraha
Eliza Mardian
Lailatun Nikmah

04Jun

Just Energy Transition for Indonesia’s Sustainable Economic Growth: A Study on the Comprehensive Value Chain of the Electric Vehicle Industry

Sinopsis:

Indonesia, endowed with rich reserves of minerals such as copper, nickel, tin, and bauxite, is entering a critical phase in the utilization of its natural resources. The government has implemented policies prohibiting mineral ore exports and promoting domestic processing industries to foster sustainable economic growth. This book presents CORE Indonesia’s study findings from 2023, aiming to enhance policymakers’ capacity in mineral-based downstream industry governance. Its chapters examine the mineral industry governance structure, the connection between upstream mineral sectors and battery-based electric vehicle industries, the potential implementation of electric vehicles across Indonesia’s regions, and the roadmaps for transitioning towards greener energy.

 

Authors:

Mohammad Faisal
Akhmad Akbar Susamto
Muhammad Ishak Razak
Stania Puspawardhani
Rahmi Afzhi Wefielananda
Dzaki Fahd Haekal
Rivan Dwi Aghnitama
Sahaya Aulia Azzahra

Graphic Design and Layout:

Alek Surya Nugraha
Eliza Mardian
Lailatun Nikmah