Core Indonesia

20Aug

Indonesia’s Green Industrial Policy: A Pilot Case Study on Tin

Indonesia holds the world’s largest tin reserves—roughly 1.4 million tonnes, or 23% of the global total—and ranks as the world’s largest exporter of refined tin, a critical mineral for solar panels, batteries, and semiconductors driving the global energy transition. Yet this strategic advantage has not translated into local prosperity. In CORE Indonesia’s latest research report, we assess the sustainability of the tin sector in Belitung and East Belitung using a five-pillar Green Industrial Policy (GIP) framework spanning economic value, labour justice, governance, environmental stewardship, and climate mitigation. The findings reveal a composite GIP score of just 0.34—meaning performance is low across all five pillars—exposing pervasive informality, weak local value capture, and an “enclave” development pattern in which extraction costs stay in the producing region while economic benefits flow elsewhere.

Drawing on household and business surveys, stakeholder interviews, field observations, and a system dynamics model projecting scenarios through 2060, the report shows that coordinated reform—formalizing artisanal mining, deepening domestic processing, and accelerating the clean-energy transition—could generate up to US$534 million in additional value added and around 8,680 new jobs by 2040, while keeping emissions in check. But because tin is finite, this window in the 2030s and 2040s must be used to diversify the regional economy before reserves run dry.

Read the full report to explore the data, the GIP scorecard, and the policy recommendation for a more sustainable and inclusive tin sector in attached below.

23Sep

Peran Strategis Indonesia dalam G20 Menurut Pandangan Para Pakar

Buku ini merupakan hasil sumbangsih nyata pemikiran para ekonom mengenai berbagai topik, khususnya ekonomi Indonesia dan disusun dalam rangka menyambut Konferensi Tingkat Tinggi G-20 yang akan diadakan di Bali pada November mendatang. Keragaman latar belakang para penulis memberikan warna baru dan memperkaya prospektif dalam menyajikan pemikir-pemikir terdepan untuk mengurai permasalah ekonomi Indonesia.

Buku ini mengangkat beberapa isu dalam Sherpa Track seperti pertanian, transisi energi, keberlanjutan lingkungan dan iklim, isu pembangunan seperti ketimpangan dan isu gender, ekonomi digital, perdagangan, dan investasi. Selain itu terdapat isu-isu dalam Financial Track yang ditulis dalam buku ini, yakni isu tantangan utang, risiko siber, inklusi keuangan serta scarring effect dan strategi keluar untuk pulih dan bangkit dari pandemi.

Pemaparan atau kajian seperti ini pelu dilakukan dan diperdalam lagi sehingga dapat memberikan alternatif solusi bagi berbagai permasalahan yang dihadapi Indonesia. Kami menyadari bahwa dalam pemaparan ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya tindak lanjut dan penelitian lebih dalam lagi. CORE Indonesia berharap dapat melanjutkan tahap awal ini dengan para penulis ataupun pemangku kepentingan lainya agar dapat menghasilkan karya yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi Indonesia.

Tak ada gading yang tak retak. Demikian juga dengan buku ini. Kami menyadari bahwa dalam penulisan buku ini juga belum sempurna, sehingga perlu adanya kritik dan saran yang membangun dalam rangka penyempurnaan tulisan ini.

Pada akhirnya dalam kesempatan ini, kami ucapkan terimakasih kepada penulis yang telah mencurahkan seluruh tenaganya dalam menyumbangkan pemikiran- pemikiran dan pandanganya, sponsor yang telah memberikan dukungan penuh dalam penerbitan buku ini, dan semua pihak yang terlibat sehingga buku ini dapat di terbitkan dengan hasil yang sesuai harapan.

Semoga buku ini dapat bermanfaat dalam menambah wawasan atau prospektif bagi para pembaca baik akademisi maupun masyarakat secara umum. Terima kasih.

Jakarta, Oktober 2022