Responsive image

Korona dan Waspada Pangan

Prof. Dwi Andreas Santosa | Article | Tuesday, 07 April 2020

Rantai perdagangan global paling peka terhadap wabah virus corona bila dibanding domestik. Di awal Maret 2020 pasar global kehilangan lebih dari 6 trilyun dolar disebabkan karena kondisi ekonomi terburuk sejak 2008 (bizcommunity, 11/3/2020).

Perjanjian antara China dan Amerika Serikat senilai total 80 milyar dolar untuk tahun 2020 dan 2021 untuk ekspor produk pertanian Amerika Serikat ke China kemungkinan besar tidak akan terwujud karena ancaman virus corona (R. McCrimmon, Morning Agriculture 11/3/2020).

Di beberapa negara inspeksi terhadap pabrik-pabrik pengolahan pangan juga mengalami penundaan yang dapat meningkatkan risiko keamanan pangan. Sebagian besar negara maju saat ini juga menerapkan pengetatan pemeriksaan barang di pintu masuk maupun keluar. Kedua langkah tersebut sangat berpotensi menyebabkan penurunan drastis ekspor maupun impor.

Penurunan Ekspor dan Pendapatan Negara

Total nilai ekspor komoditas pertanian Indonesia pada tahun 2019 sebesar 26,3 milyar dolar dan terus mengalami penurunan dalam 3 tahun terakhir ini. Diperkirakan nilai ekspor tersebut akan menurun lagi di tahun 2020 dan menjadi terendah selama 10 tahun terakhir. Dari nilai ekspor sebesar 26,3 milyar dolar tersebut, ekspor komoditas perkebunan mencapai 25,0 milyar dolar atau mencapai 95,1 persen dari total ekspor komoditas pertanian Indonesia, sedangkan 5 persen sisanya berasal dari komoditas tanaman pangan, hortikultura dan peternakan. Ekspor minyak kelapa sawit merupakan komponen penyusun terbesar dan mencapai angka 16,6 milyar dolar atau 63,1 persen dari total ekspor komoditas pertanian.

Ekspor minyak kelapa sawit dari Indonesia diperkirakan secara volumetrik akan menurun di 2020. Disisi lain harga minyak sawit dunia saat ini juga tertekan yang menyebabkan devisa negara dari minyak sawit diperkirakan akan menurun sekitar 25 persen demikian juga ekspor komoditas pertanian lainnya.

Impor 8 komoditas utama yaitu gandum, kedelai, gula tebu, jagung, beras, bawang putih, ubi kayu dan kacang tanah juga akan menurun. Penurunan impor komoditas tersebut diperkirakan akan memicu harga domestik.

Perdagangan pertanian dan pangan antara Indonesia dan China diperkirakan akan paling terdampak akibat virus corona. Nilai perdagangan komoditas pertanian Indonesia-China mencapai 5,92 milyar dolar yang menghasilkan surplus 1,86 milyar dolar bagi Indonesia. Nilai perdagangan Indonesia-China untuk komoditas pertanian diperkirakan akan menurun lebih dari 30 persen.

Dari sisi domestik, wabah virus corona akan berdampak terhadap pekerja di sektor pengolahan pangan dan sektor pertanian. Penutupan sementara universitas, sekolah, perkantoran, penurunan bisnis dan pengunjung di restauran, serta pertemuan yang melibatkan massa akan berpengaruh signifikan terhadap sektor pangan dan pertanian.

Tata Kelola Harga Pangan

Harga pangan merupakan salah satu faktor penting yang terkait dengan stabilitas politik terutama di negara-negara yang berpendapatan rendah dan menengah termasuk Indonesia. Kenaikan harga pangan yang terlalu tinggi dapat menimbulkan gejolak politik, kerusuhan dan bahkan penggantian rezim.

Data sementara harga pangan global justru tertekan. Indeks harga pangan FAO di bulan Februari 2020 menurun sebesar 1 persen dibanding Januari, tetapi tetap 8.1 persen lebih tinggi di banding tahun sebelumnya (FAO Food Price Index 15/3/2020). Indeks harga minyak nabati dunia turun 10,3 persen, serealia turun 0,9 persen, daging 2,0 persen. Tetapi sebaliknya, harga beras di pasar internasional meningkat, harga susu dan produk turunannya naik 4,6 persen, dan gula meningkat 4,5 persen.

Penurunan harga pangan di pasar internasional untuk beberapa komoditas lebih disebabkan karena permintaan yang turun karena terhambatnya perdagangan produk pertanian dan pangan di dunia internasional. Di negara-negara berkembang yang ketergantungan impor pangannya tinggi diperkirakan harga pangan akan bergejolak.

Di Indonesia, enam komoditas yang diperkirakan akan naik harganya adalah kedelai, gula tebu, jagung, daging sapi, pakan ternak, bawang putih dan hortikultura terutama bawang bombay dan buah-buahan impor. Kenaikan harga pakan ternak akan menyebabkan peningkatan harga daging ayam dan telur. Terhambat dan terlambatnya impor daging juga akan meningkatkan harga. Diperkirakan mulai April 2020 ketiga komoditas sumber protein tersebut akan meningkat harganya. Kenaikan harga bisa lebih dari 10 persen dalam beberapa bulan ke depan.

Dua bahan pangan pokok utama yaitu gandum dan beras diperkirakan tidak mengalami gejolak di 2020 ini. Harga pangan olahan asal gandum diperkirakan stabil karena komponen bahan baku terhadap produk jadi tidak terlalu signifikan. Harga gandum bisa mengalami kenaikan bila wabah virus corona meluas dan negara-negara eksportir gandum menahan barang untuk mengamankan cadangan dalam negeri.

Harga beras relatif stabil dalam minggu-minggu terakhir setelah wabah virus corona terjadi di Indonesia. Berdasarkan kajian Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) pergerakan harga gabah dan beras di tahun 2019 dan awal tahun 2020 terjadi anomali. Harga gabah tertinggi justru terjadi di bulan Agustus 2019 (Rp 5160/kg gabah kering panen, GKP) dan terus mengalami penurunan hingga Februari 2020 (Rp 4769/kg GKP). Sedangkan harga beras mencapai puncak tertinggi di bulan Desember 2019 dan terus menurun hingga saat ini. Diperkirakan dengan masuknya musim panen di akhir Maret dan April harga beras akan cenderung turun. Harga kemudian akan tetap stabil hingga Oktober 2020.

Rekomendasi

Penyiapan stok pangan untuk kota ataupun wilayah yang akan ditutup harus dilakukan dengan maksimal. Selain itu sistem logistik pangan dari dan ke wilayah tersebut harus benar-benar dapat dijamin kelancarannya.

Sebagai contoh, Wuhan dan beberapa kota lainnya di Hubei saat ini mulai terjadi kelangkaan pangan dan pasokan medis setelah ditutup lebih dari satu bulan. Aktivitas bongkar di pelabuhan Wuhan menurun tajam sebesar 93 persen sedangkan aktivitas muat menurun 85 persen (The Conversation, 13/3/2020).

Indonesia juga akan mengalami penurunan perdagangan pangan dengan negara-negara lain di dunia. Dipastikan nilai perdagangan baik ekspor maupun impor akan menurun di kisaran angka 25 persen dan perdagangan pangan dengan China akan menurun lebih dari 30 persen. Devisa negara dari ekspor produk pertanian juga akan menurun di kisaran yang sama. Dengan demikian upaya perlindungan dan bantuan terutama bagi petani yang terkena dampak langsung dari penurunan ekspor ini perlu dilakukan.

Sistem logistik pangan akan terkena dampak pertama kali akibat proses pengawasan yang lebih ketat di pelabuhan, pintu masuk antar wilayah maupun pasar. Pemerintah perlu mendukung dan mengembangkan sistem transportasi pangan volume besar, misalnya melalui kereta api, angkutan sungai dan laut, untuk mengurangi kontak antar manusia.

Bila wabah virus corona semakin meluas maka proses produksi pangan nasional akan terganggu yang menyebabkan turunnya produksi. Turunnya produksi dan juga turunnya impor pangan akan menurunkan stok pangan dalam negeri. Bantuan kepada petani untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi saat ini sangat diperlukan. Pemerintah China saat ini mensubsidi petani untuk pembelian peralatan smart-agriculture untuk mengurangi kontak antar petani (W. Ye, CNBC 9/3/2020) dan menjadikan pertanian menjadi prioritas utama pembangunan saat ini. Sangat diharapkan pemerintah Indonesia juga mengambil langkah yang sama.

Kelebihan stok komoditas ekspor akan menyebabkan harga beberapa komoditas tersebut menurun yang menurunkan pendapatan usaha tani. Untuk minyak sawit konversi ke bahan bakar - tidak hanya untuk biodiesel - perlu segera diupayakan. Untuk komoditas hortikultura, penurunan impor hortikultura akan berdampak positif bagi petani hortikultura dalam negeri karena permintaan produk domestik meningkat.

Harga pangan untuk beberapa komoditas diperkirakan meningkat. Dengan demikian pemantauan stok dan harga perlu lebih diintensifkan. Analisis dan pemetaan untuk mendeteksi daerah ataupun wilayah yang berpotensi rawan pangan perlu segera dilakukan. Sistem logistik dan cadangan pangan di wilayah tersebut harus menjadi perhatian khusus.

Saat ini data stok pangan yang benar-benar akurat sangat dibutuhkan. Badan Pusat Statistik diharapkan menjadi lembaga tunggal untuk melakukan kajian dan rilis data pangan karena memiliki kepentingan sektoral paling kecil. Kapasitas dan pendanaan BPS perlu segera ditingkatkan. Bersamaan dengan pendataan stok, pemerintah perlu segera memperbesar stok pangan utama sehingga pengendalian harga bisa dilakukan. Stok pangan di masing-masing daerah juga perlu ditingkatkan.

Diperkirakan wabah virus corona di Indonesia akan mencapai puncak di antara April-Mei 2020 dan setelah itu kasus baru akan mengalami penurunan. Fase pemulihan hingga wabah virus corona benar-benar berhenti diperkirakan lebih dari 6 bulan setelah puncak atau disekitar bulan Oktober-November 2020. Saat itu pelan-pelan persoalan pangan terkait wabah virus corona akan mengalami perbaikan.

Wabah virus corona diharapkan mampu menyatukan seluruh komponen anak bangsa. Hanya dengan persatuan, kepatuhan serta saling menyemangati dan mengasihi maka wabah virus corona akan segera berakhir di Indonesia. Pelan-pelan seluruh aspek kehidupan akan kembali berjalan normal. Semoga.

 

*) Artikel ini telah dimuat dalam harian Kompas pada Kamis, 20 Maret 2020