Responsive image

Peyaluran KMK Bank Cenderung Melambat, Ini Pendapat Ekonom

Bisnis Indonesia | Feature | Wednesday, 03 July 2019

Ekonom menilai penyaluran kredit modal kerja (KMK) perbankan yang mengalami perlambatan pada awal tahun ini disebabkan oleh faktor pelaku usaha yang cenderung menahan ekspansi usaha pada awal tahun. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit untuk modal kerja per Mei 2019 sebesar 10,8% (secara year on year) lebih rendah dibandingkan dengan April yang mencapai 11,1% (YoY). Sepanjang tahun ini, segmen KMK memang menunjukkan perlambatan melanjutkan kondisi pada kuartal IV tahun sebelumnya.

Sebagai gambaran, sejak Mei 2017, pertumbuhan kredit KMK berfluktuasi di level 7% - 8% dan baru mencapai dua digit pada Mei 2018 di kisaran 10,4%. Lalu, pada semester II/2018, pertumbuhannya terekskalasi dengan puncaknya sebesar 14,2% pada Oktober 2018. Akan tetapi, sejak November tahun lalu, tren pertumbuhannya mulai melambat. Hal ini akibat perlambatan di sejumlah sektor, antara lain peternakan, pertanian, kehutanan & perikanan; industri pengolahan; pertambangan dan penggalian; serta konstruksi.

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara, hal itu lantaran pelaku usaha mengantisipasi kenaikan harga bahan baku impor serta menunggu hasil Pemilu dan juga faktor permintaan ekspor yang melemah. “Sektor seperti manufaktur dan komoditas jadi diihindari untuk sementara dan bank akhirnya juga lebih hati-hati dengan tidak agresif menyalurkan kredit. Bank lebih selektif menyalurkan kredit ke nasabah yg punya catatan kredit lancar serta agak menahan untuk nasabah yang baru,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (2/7/2019). Lebih lanjut, Bhima melihat adanya potensi kenaikan kredit khususnya KMK pada semester II mendatang seiring dengan stabilitas politik yang lebih bagus. “Perang dagang juga mereda, harapannya segera masuk fase recovery,” katanya.

Senada, Direktur Riset Center of Reform on Economy (CORE) Piter Abdullah menuturkan sinyal perlambatan tersebut sebenarnya sudah dibaca oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang membuat OJK memangkas target pertumbuhan kredit menjadi 9%-11%. Menurut Piter, penyaluran kredit ditentukan dua sisi yakni permintaan dan pasokan. Dari sisi pasokan, ketatnya likuiditas masih menjadi persoalan utama yang menghantui perbankan, khususnya bank-bank kecil BUKU I dan II serta beberapa bank BUKU III. Di sisi lain, kelompok bank BUKU IV ada juga bank yang masih lebih mengutamakan kualitas kredit ketimbang pertumbuhan kredit demi menjaga rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) sekaligus tingkat keuntungan.

Sementara itu, dari sisi permintaan, kata Piter, permasalahan global yang menyebabkan stagnasi permintaan dan harga komoditas mengakibatkan kebutuhan pembiayaan di sektor pertambangan dan perkebunan jauh melambat. Kondisi yang sama terjadi di sektor properti yang selama ini termasuk pendorong pertumbuhan kredit.

“Kondisi supply dan demand yang tidak menggembirakan ini diperkuat oleh proses panjang Pemilu. Pada semester II, saya kira pertumbuhan kredit bisa membaik seiring selesainya proses Pemilu, tetapi akan sangat ditentukan oleh kebijakan pemerintah untuk mendorong domestik demand sebagai respons perlambatan global,” katanya. Tanpa ada kebijakan yang luar biasa, imbuhnya, perbaikan pertumbuhan kredit tidak akan signifikan. Secara keseluruhan, pertumbuhan kredit akan berada di rentang 10% - 11%.


Sumber: Bisnis.com