Responsive image

Menyingkap Lonjakan Defisit Perdagangan

| Article | Wednesday, 29 May 2019

Setelah mengalami defisit yang sangat dalam pada 2018, tantangan untuk memperbaiki kinerja perdagangan di tahun ini nampaknya belum surut. Pada April lalu, kinerja perdagangan kembali jatuh defisit hingga 2,5 miliar Dolar AS, padahal pada dua bulan sebelumnya sempat menunjukkan tanda-tanda perbaikan dengan surplus masing-masing 330 juta Dolar AS (Februari) dan 671 Dolar AS (Maret). Angka defisit April ini bahkan merupakan yang terbesar yang pernah dialami Indonesia.


Ekspor yang sempat menguat 11,7% (month to month) pada bulan sebelumnya kembali anjlok hingga 10,8% pada April 2019. Sementara impor justru menguat dari 10,3% pada Maret 2019 menjadi 12,25% di April 2019. Baik ekspor migas maupun nonmigas mengalami kontraksi, namun yang terbesar adalah kontraksi di sektor migas yang mencapai 35%. Ekspor manufaktur di April mengalami kontraksi paling dalam dibanding ekspor pertanian maupun pertambangan, hingga mencapai 9% (month to month). Penurunan terjadi untuk hampir semua negara tujuan utama, di antaranya RRT (-4%), India (-14,2%), Korea Selatan (-13%), dan Jepang (-28,4%).


Ada sejumlah faktor yang menyebabkan anjloknya kinerja perdagangan April, di antaranya adalah faktor musiman pada momen Ramadhan dan Lebaran. Antisipasi kenaikan permintaan untuk kebutuhan mudik dan arus balik lebaran telah mendorong lonjakan impor minyak mentah dan hasil minyak. Ini salah satu yang menyebabkan impor migas pada April meningkat jauh lebih besar dibanding impor nonmigas, yakni 47% untuk migas berbanding 7,8% untuk nonmigas. Impor barang konsumsi di April juga tumbuh sangat tinggi hingga 24,12%, dua kali pertumbuhan impor bahan baku dan barang penolong, dan empat kali pertumbuhan impor barang modal secara month to month. Ini pun tak lepas dari antisipasi permintaan saat Ramadhan dan Lebaran, di antaranya daging sapi yang mengalami kenaikan dari 40,5 juta dolar AS pada Maret 2019 menjadi 64,1 juta dolar AS pada April 2019. Meskipun demikian, secara tahunan, impor barang konsumsi di April tahun ini sebenarnya turun 11,57% dibanding bulan yang sama tahun lalu.


Efek Global
Kedua, pelemahan ekspor Indonesia pada bulan April lalu juga tidak lepas dari efek perlambatan pertumbuhan ekonomi global khususnya negara-negara tujuan utama ekspor Indonesia yang sebenarnya sudah dirasakan sejak 2018. Sejalan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut, permintaan terhadap produk-produk impor mereka juga melemah. Pertumbuhan impor RRT melambat dari 25,9% pada Maret 2019 menjadi hanya 8,5% pada April 2019, sementara Korea Selatan mengalami perlambatan pertumbuhan impor dari 14,9% menjadi 6,8% pada periode yang sama. Bahkan kontraksi impor terjadi di sejumlah negara seperti India yang turun 4,6% pada April 2019 dibandingkan bulan sebelumnya, sementara Taiwan dan Vietnam masing-masing turun 9,4%, dan 2,6%.


Ketiga, terlepas dari penurunan permintaan di negara-negara tujuan ekspor, daya saing produk ekspor Indonesia sendiri juga melemah. Ini dapat dilihat dari menyusutnya pangsa ekspor Indonesia di beberapa negara tujuan utama. Pangsa ekspor Indonesia di RRT menyusut dari 1,8% pada triwulan pertama 2018 menjadi 1,6% triwulan pertama 2019, di Jepang turun dari 3,1% menjadi 2,7%, sementara di Thailand dari 3,5% menjadi 3,0% pada periode yang sama.


Keempat, hambatan akses pasar di negara tujuan juga turut menggerogoti kinerja ekspor Indonesia. Hambatan ekspor ini bahkan cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir sejalan dengan eskalasi perang dagang antara AS dan RRT. Hambatan yang dihadapi ekspor minyak sawit dan turunannya yang merupakan andalan Indonesia ke sejumlah negara tujuan utama cenderung meningkat, baik dalam bentuk tarif maupun non tarif. Manakala di Eropa minyak sawit Indonesia dihadapkan pada diskriminasi yang bersifat non tarif, di India minyak sawit Indonesia dikenakan tarif yang lebih tinggi dibandingkan produk sejenis asal Malaysia.


Kembali anjloknya kinerja perdagangan pada bulan April menunjukkan upaya mendorong ekspor dan pengendalian impor dalam rangka memperbaiki kinerja perdagangan tahun ini menjadi lebih sukar daripada yang diperkirakan sebelumnya. Ini merupakan pekerjaan rumah besar yang harus menjadi prioritas untuk dituntaskan dalam periode kedua pemerintahan Jokowi lima tahun ke depan.


Struktural
Dengan Melihat semakin dalamnya defisit, tidak semestinya Indonesia hanya berharap pada perbaikan ekonomi global saja. Transformasi struktural di dalam negeri mau tidak mau harus dijalankan, dimana bagian utama dari transformasi tersebut adalah revitalisasi industri manufaktur yang menyesuaikan tantangan dan peluang saat ini dan masa depan. Revitalisasi industri manufaktur yang tepat dan terfokus tidak hanya akan memperbaiki iklim investasi manufaktur, tetapi juga mendorong daya saing dan penetrasi ekspor serta mengurangi ketergantungan impor.


Meningkatnya tren proteksi yang dilakukan oleh negara-negara mitra dagang seperti yang terjadi pada kasus minyak sawit dan produk turunannya harus direspon dengan penguatan kepiawaian diplomasi perdagangan. Ini tentunya membutuhkan dukungan kekuatan riset dan data-data yang akurat. Untuk pasar dalam negeri, inovasi-inovasi kebijakan baru perlu terus didorong untuk meningkatkan pemanfaatan produk dalam negeri dan mengendalikan impor tanpa harus bertentangan dengan aturan perdagangan internasional. Beberapa kebijakan pengendalian impor yang telah dijalankan seperti regulasi larangan dan pembatasan (lartas), pengenaan PPh impor barang konsumsi, dll, perlu terus dievaluasi untuk meningkatkan efektivitas dan memperbaiki kelemahannya.


Tanpa bauran kebijakan yang komprehensif dan saling melengkapi seperti di atas, kecil kemungkinan problema defisit perdagangan dapat diatasi secara berkelanjutan di masa mendatang. Fundamental ekonomi yang kokoh dan lebih tahan terhadap guncangan eksternal pun akan semakin sulit direalisasikan.





Artikel ini ditulis oleh Direktur Eksekutif CORE, Mohammad Faisal, Ph.D dan dimuat di harian Bisnis Indonesia (Rabu, 29 Mei 2019)