Responsive image

Neraca Dagang Defisit, Ini Strategi Genjot Ekspor dan Tarik Investasi

IDN Times | Feature | Friday, 24 May 2019

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik mencatatkan, neraca perdagangan defisit hingga US$2,5 miliar, angka ini lebih besar dibanding dengan defisit pada periode yang sama di tahun lalu. Defisit ini merupakan yang terbesar sejak neraca dagang pernah mengalami defisit terbesarnya pada Juli 2013, dengan nilai US$2,32 miliar.

Defisit neraca perdagangan disebabkan turunnya nilai ekspor dan impor per April tahun ini. BPS juga mencatatkan, nilai ekspor April US$12,6 miliar atau turun 13,1 persen secara year on year, sedangkan impor mencapai US$15,10 miliar atau turun 6,58 persen.

Hal ini juga turut memengaruhi investasi asing di Indonesia. Sebelum kondisi defisit neraca perdagangan investor asing membukukan jual bersih senilai Rp12,3 miliar di pasar. Pascadirilisnya angka neraca perdatangan, nilai jual bersih mencapai tiga kali lipatnya menjadi Rp37,9 miliar.

Apa saja yang perlu dilakukan untuk menggenjot ekspor sehingga berdampak positif terhadap neraca perdagangan sekaligus sentimen bagi investor asing?

1. Industri manufaktur harus terus digenjot untuk mendorong investasi

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal mengatakan melemahnya kinerja ekspor banyak disebabkan oleh faktor fundamental dari dalam negeri. Misalnya, relatif lemahnya daya saing ekspor untuk produk manufaktur. Hal itu menyebabkan Indonesia lebih banyak mengandalkan ekspor komoditas atau bahan baku, yang nilai tambahnya rendah dan lebih rentan terhadap perubahan harga di pasar internasional.

Menurutnya, pemerintah harus terus membenahi industri manufaktur di Tanah Air dan meperbaiki iklim usaha manufaktur. Itu akan mendorong masuknya investasi ke industri manufaktur khususnya yang berorientasi pada ekspor.

2. Pemerintah dapat melakukan diverfikasi produk ke pasar tradisional

Faisal menambahkan, strategi lain yang dapat dilakukan pemerintah untuk memcu kinerja ekspor adalah dengan cara melakukan diverfikasi ekspor ke pasar nontradisional. Dia menilai langkah tersebut dapat meredam efek perlambatan ekspor, yang disebabkan oleh negara tujuan eskpor utama seperti Tiongkok dan AS. "Meskipun cara ini, tidak bisa menyaingi pasar negara-negara tujuan ekspor utama yg memang permintaan impornya jauh lebih besar," jelasnya kepada IDN Times.

3. Defisit neraca April akibat defisit neraca migas

Mengutip rillis dari BPS, defisit neraca perdagangan pada April berasal dari defisit pada neraca migas yang mencapai US$1,49 miliar. Selain itu, neraca nonmigas juga tecatat mengalami defisit sebesar US$1,01 miliar.

Ekspor migas mengalami penurunan signifikan dari US$1,17 miliar menjadi US$741,9 juta secara year on year. Impor migas juga ikut mengalami penurunan 3,99 persen, dari tahun sebelumnya.


4. Terdapat tiga provinsi yang memberikan sumbangan ekspor

Sebagai informasi, tiga provinsi yang memberikan sumbangan terbesar terhadap ekspor nasional. Pada periode Januari - April tahun 2019, sumbangan terbesar berasal dari Jawa Barat sebesar 18,22 persen, Jawa Timur 11,53 persen dan Kalimantan Timur sebesar 10,43 persen.


Sumber: IDN Times